Oleh Bonnie K. Carenen dan Ilmi Suminar
Kondisi hidup sangat sulit bagi 1.200 keluarga yang tinggal di kamp-kamp pengungsi setelah gempa 25 Oktober 2010 dan tsunami di Kepulauan Mentawai. Keluarga yang tinggal di tenda pada musim hujan dikelilingi oleh lumpur lengket, suara orang-orang yang hidup terlalu dekat dengan sesama, bau asap dari memasak makanan dan pembakaran sampah, dan suara pohon yang ditebang oleh gergaji mesin dan parang dimana mereka mencoba untuk membangun kembali kehidupan mereka dengan membangun tempat tinggal.
The evacuation site seemed to be packed with tents where the tsunami survivors staying before they get new house or transitional shelter
(Andreas Sinaga)
Sementara itu, mereka dihadapkan pada cuaca dan berpotensial mendapatkan penyakit. "Kami tidak tinggal di tenda pada siang hari karena benar-benar panas, sementara pada malam hari itu akan dingin," kata Linus, penyintas yang rumahnya hancur akibat tsunami 2010 Oktober dan sekarang tinggal di sebuah tenda kecil dengan istri dan lima anaknya.
"Saya tidak mampu untuk membangun rumah baru,"ujar Linus. Dia berharap bahwa pemerintah atau lembaga lain akan membantu keluarganya dan yang lain yang kehilangan rumah mereka untuk membangun rumah baru atau tempat hunian sementara. Sebuah rumah atau tempat tinggal yang lebih baik adalah penting bagi mereka untuk memulai kehidupan mereka. "Kami khawatir dengan barang-barang kami yang berada di tenda ketika kami sedang bekerja. Orang mungkin akan mencurinya," ujar Linus. "Kami tidak mendapatkan cukup uang karena kami tidak tinggal lama di tempat kerja," tambah Linus yang bekerja sebagai nelayan untuk mencari nafkah. "Kami khawatir tentang anak-anak kami, khususnya pendidikan mereka. Kami tidak bisa membayar mereka untuk pergi ke sekolah. "
This family has been staying in the tent for over 2 months now, with no privacy.
(Andreas Sinaga/ CWS Indonesia )
Membantu yang selamat mendirikan hunian yang lebih aman, dan lebih tahan lama merupakan prioritas bagi Church World Service. Setelah bencana CWS segera mulai menyediakan sumber daya yang akan membantu keluarga dan masyarakat membangun kondisi hidup lebih layak. "CWS berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam menyediakan tempat penampungan sementara bagi para korban. Dan kami akan memulai konstruksi setelah kami melakukan penilaian lebih lanjut," Dino Satria, Koordinator CWS Indonesia untuk Tanggap Darurat dan Manajemen Risiko Bencana melaporkan.
Hunian sementara CWS akan memberikan keluarga martabat dan pengaturan hidup yang aman. Sesuai dengan Standar Sphere, yang menetapkan pedoman yang tepat untuk situasi bencana dan darurat, CWS akan mengajarkan penduduk setempat cara membangun rumah semi permanen di Kepulauan Mentawai. Struktur ini dapat dibangun dengan cepat menggunakan bahan yang CWS dapat bantu menyediakan, dan kemudian dapat diubah menjadi rumah permanen yang tahan terhadap dampak dari angin dan hujan, dan juga gempa bumi.
Bagi keluarga yang telah tinggal di tenda-tenda, tinggi di pegunungan dan jauh dari garis pantai tempat rumah asli mereka yang telah hanyut seperti Linus dan keluarga lainnya di Pulau Pagai Selatan, Kepulauan Mentawai, pelatihan dan sumber daya yang CWS sediakan dapat menjadi transformatif: menjamin kehidupan dan penghidupan bagi keluarga dan bagi masyarakat secara keseluruhan.
Berita yang berkaitan