In Focus

Hari Pengungsi Sedunia 2011: Harapan dalam Keputusasaan

Senin, 20 Juni 2011

" Oleh karena harapan, hidup kami tetap berlanjut. Jika hidup memberi kami ratusan alasan untuk menangis, kami berharap memiliki ribuan alasan untuk tersenyum. Jika kami ingin memiliki hidup yang lebih baik, harapan kami akan membawa kami kesana. Satu saja pengungsi tanpa harapan sudah terlalu banyak." Pesan ini dibacakan oleh pengungsi yang mewakili lima komunitas: Arab, Afghanistan, Sri Lankan, China, dan Somalia dalam bahasa mereka; pesan ini juga dibacakan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris pada peringatan Hari Pengungsi Dunia 2011 oleh Church World Service.

 

2011 World Refugee Day's theme is one refugee without hope is too many. In the 2011 commemoration about 350 UNHCR persons of concern gathered in Bogor Botanical Garden.
2011 World Refugee Day's theme is one refugee without hope is too many. In the 2011 commemoration about 350 UNHCR persons of concern gathered in Bogor Botanical Garden.
(Iim Imanuel Hutagalung/ CWS indonesia)

Walaupun menghadapi ketidakpastian apakah kembali ke negara asal atau menetap di tempat lain, pengungsi di Indonesia terus berharap untuk hidup yang lebih baik di masa depan. Naguleswari, 28, melarikan diri dari Sri Lanka bersama suaminya, dua anak, dan seorang bayi dalam kandungannya beberapa tahun lalu karena masalah keamanan di daerah mereka. Mereka menggunakan kapal dari Sri Lanka dan pergi ke Australia, namun dicegat oleh pihak berwenang Indonesia di Laut Jawa. Meskipun dengan masa lalunya, ia masih percaya bahwa akan ada masa depan yang cerah bagi keluarganya, terutama bagi anak-anaknya. "Saya ingin anak-anak saya mendapatkan pendidikan yang baik, masuk perguruan tinggi," kata Naguleswari. Dan, itu adalah harapan.


Pada Januari 2011, populasi baik pengungsi dan pencari suaka di Indonesia yang berada dalam perhatian UNCHR adalah sebanyak 2,882. Mereka tidak tahu berapa lama mereka harus menunggu. Bisa saja untuk beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun, itu semua tergantung pada banyak faktor. Beberapa orang akan kembali jika negara asal mereka sekarang aman dan lainnya harus menunggu sampai negara lain menerima mereka. Tetapi integrasi lokal di Indonesia bukan merupakan pilihan bagi mereka karena pemerintah Indonesia belum menjadi negara penandatangan Konvensi Pengungsi PBB 1951 dan Protokol 1967.


Namun, beberapa pengungsi telah tinggal di sini selama lebih dari satu dekade, banyak dari mereka bahkan berbicara bahasa lokal. Tarnyin, 30an, dari Burma / Myanmar telah tinggal di sini selama lebih dari sepuluh tahun. Dia fasih berbahasa lokal, Bahasa Indonesia dan Sunda. Ia berharap dapat segera mendapatkan solusi untuk masalahnya. Dia ingin pergi ke Australia dan membina sebuah keluarga di sana. Di sisi lain, Aadan Mualim, yang kehilangan keluarganya dalam ledakan bom lebih dari satu dekade yang lalu di kampung halamannya, Somalia, merasa nyaman tinggal di Indonesia di mana ia dapat menjalankan agamanya.

Pada Hari Pengungsi Sedunia, yang diperingati setiap tahun pada tanggal 20 Juni, sekitar 300 pengungsi dan pencari suaka berkumpul di Kebun Raya Bogor bersama-sama dengan para staff CWS, UNHCR, JRS, IOM, dan World Relief. "Hari ini adalah hari bahagia bagi saya dan pengungsi lainnya. Hari ketika kami dapat melupakan masalah kami untuk sementara, "kata Naguleswari, yang datang ke sana hari itu untuk berpartisipasi dalam kompetisi penataan bunga dan kuliner dan untuk mendukung anak-anaknya yang menampilkan tarian Sri Lanka.


CWS menyelenggarakan beberapa kompetisi dan perlombaan. Wanita, pria dan anak-anak tampak bersemangat berpartisipasi dalam lomba balap karung. Beberapa pengungsi mengakui bahwa ini adalah pertama kalinya mereka balap karung. Melihat betapa menyenangkannya perlombaan tersebut membuat peserta lebih tertarik untuk bergabung. Kegiatan lain yang menarik adalah kompetisi kuliner. Perwakilan dari masing-masing komunitas memasak makanan tradisional negara asal mereka. Banyak orang meramaikan arena perlombaan karena mereka ingin mencicipi makanan dari Somalia, Afghanistan, Iran, Palestina, dan Sri Lanka. Anak-anak, baik pengungsi atau dari masyarakat setempat, diberi kesempatan untuk berkreasi. Kompetisi menggambar dan mewarnai dipersiapkan untuk mereka, orang tua tidak diperbolehkan untuk membantu. Di sisi lain tenda, kompetisi penataan bunga diadakan untuk sarana kreativitas perempuan. Meskipun mereka bukan penata bunga profesional, mereka cukup berbakat.


Selain kompetisi, penonton juga dihibur oleh beberapa pertunjukan. Sekelompok pemuda Afghan menampilkan beberapa lagu tentang negara mereka dan harapan mereka. Mengenakan pakaian oranye-salmon yang cukup tradisional dihiasi dengan beberapa aksesoris yang menyilaukan, seorang gadis kecil menampilkan tarian dari Sri Lanka. Dia membuat penonton kagum dengan penampilannya. Pertunjukan lain adalah drama musikal oleh anak-anak dari masyarakat setempat. Mereka berharap bahwa teman-teman pengungsi mereka yang seharusnya pergi ke sekolah bisa mendapatkan pendidikan di Indonesia sambil menunggu solusi jangka panjang.

Naguleswari mengatakan bahwa pengungsi biasanya mengisi hari mereka dengan kesedihan, frustrasi dan keputusasaan, berpikir tentang apa yang terjadi saat itu di negara asalnya dan berpikir tentang masa depan mereka yang tidak pasti. Tapi sekarang kegiatan yang disediakan oleh CWS telah membantu mereka untuk melewati hari demi hari. Sebuah pertanian telah dibuka di samping pusat kegiatan di Cipayung, Bogor bagi para pengungsi. Neminathan dari Sri Lanka adalah salah satu dari mereka yang mendapatkan manfaat dari pertanian. Dia telah memanen lahannya berkali-kali dan menjual produk ke pasar lokal dan komunitas. "Saya berharap bisa terus bekerja di pertanian saya di sini dan ketika saya kembali ke tempat lain di suatu hari nanti saya masih akan dapat menggunakan keterampilan saya dalam pertanian," kata Nemi, panggilan teman-temannya. Kegiatan lain seperti kelas-kelas Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan kelas-kelas lain disediakan di pusat pengungsi oleh CWS. Didukung oleh Komisaris Tinggi untuk Pengungsi PBB atau UNHCR, CWS mampu memfasilitasi banyak kegiatan baik untuk pengungsi dan pencari suaka yang menunggu solusi jangka panjang.


Untuk Naguleswari, Tarnyin, Aadan Mualim, Neminathan, dan pengungsi lainnya di Indonesia, harapan adalah semua yang mereka punya. Pada Hari Pengungsi Dunia tahun ini, mereka diingatkan bahwa masih ada harapan dan satu pengungsi tanpa harapan adalah terlalu banyak.

 



Berita yang berkaitan

Hari Air Sedunia 2011

Bergabunglah dengan CWS Indonesia Merayakan Hari Air Sedunia!

Lanjut
Hari Cuci Tangan Sedunia 2010

Mari rayakan hari cuci tangan sedunia lebih dari sehari. Cuci tangan dan selamatkan nyawa!

Lanjut
Hari Kemanusiaan Dunia 2010

Bergabung dengan CWS Indonesia merayakan Hari Kemanusiaan Dunia!

Lanjut
ACT Alliance

Church World Service adalah anggota ACT Aliance

Lanjut
Kementrian Sosial Republik Indonesia

Church World Service bekerja di bawah Nota Kesepahaman dengan Kementrian Sosial

Lanjut
The Enough For All Campaign

 utilizes the challenges and opportunities presented by climate change to promote just and ecologically sustainable development.

Lanjut
CROP HUNGER WALKS

Neighbors walking together to take a stand against hunger in our world. Together we raise awareness and funds for international relief and development, as well as local hunger-fighting.

Lanjut