Berita CWS

Mencegah cidera parah melalui pelatihan bantuan pertama untuk pengungsi

Kamis, 8 September 2011

Dalam keadaan darurat, pengetahuan dan keterampilan tentang cara memberikan pertolongan pertama dapat mencegah cidera parah atau kematian. Pengungsi dianggap lebih rentan hanya karena mereka tidak menggunakan bahasa yang sama dengan komunitas lokal atau orang-orang di pusat kesehatan masyarakat. Ketika ada keadaan darurat, rekan pengungsi dari negara yang sama atau dengan bahasa yang sama diharapkan dapat memberikan pertolongan karena mereka dapat lebih dekat dari pada petugas kesehatan CWS atau bahkan paramedis.

Oleh karena itu, penting untuk membekali para pengungsi dengan pengetahuan dan keterampilan yang tepat tentang pertolongan pertama yang dapat membantu menyelamatkan hidup dalam keadaan darurat. CWS mengadakan pelatihan pertolongan pertama bagi pengungsi pada tahun 2009 dan sesi informasi pada tahun 2010. Para peserta diharapkan untuk memberikan bantuan dalam keadaan darurat. Namun, para pengungsi dan atau pencari suaka selalu datang dan pergi. Pada akhir tahun 2010 banyak pengungsi dan pencari suaka telah pergi ke negara lain; diantara mereka adalah pengungsi yang berpartisipasi dalam pelatihan dan sesi informasi pertolongan pertama.             

Dengan pertimbangan di atas, penting untuk mengadakan pelatihan atau sesi informasi tentang pertolongan pertama secara reguler. Pelatihan pertolongan pertama diadakan di Wisma ex-Pertamina, Cisarua, pada 13 Juli 2011 untuk pengungsi yang saat ini tinggal di Cipayung, Bogor. Pelatihan yang difasilitasi oleh Dr. Weni Puspitasari dari Rumah Sakit M.H. Thamrin Bogor, bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan peserta tentang prinsip-prinsip pertolongan pertama dan untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam melakukan pertolongan pertama dengan peralatan minimum atau tanpa peralatan medis serta pengetahuan tentang prosedur  CWS mengenai rujukan ke pusat kesehatan.

 Dr. Weni Puspitasari of M.H Thamrin Hospital explaining the participants about emergency cases. The Twenty-three participants are representatives of each country of origin.
Dr. Weni Puspitasari of M.H Thamrin Hospital explaining the participants about emergency cases. The Twenty-three participants are representatives of each country of origin.
(Nofri Raco/ CWS Indonesia)



Pelatihan pertolongan pertama terdiri dari tiga sesi. Sesi pertama memungkinkan para peserta untuk belajar tentang penyakit domestik yang umum seperti diare, termasuk dehidrasi, demam, sakit kepala, sakit perut dan muntah yang dapat mengarah ke keadaan darurat. Walaupun tidak dianggap darurat, para peserta diberitahu untuk waspada dan diajarkan bagaimana menangani penyakit sebelum mendapatkan bantuan dari paramedis di fasilitas kesehatan. 

Sesi kedua membahas kasus-kasus darurat seperti serangan jantung, keracunan dan kejang-kejang. Para peserta diajarkan bagaimana mengidentifikasi kasus darurat ini dan bagaimana cara menanganinya di rumah. Dalam sesi ini, peserta mendapatkan informasi tentang kebiasaan hidup sehat seperti pencegahan terhadap penyakit.   

Tidak hanya belajar teori, peserta juga dimungkinkan untuk mempraktekkan bagaimana mengobati beberapa penyakit dalam kondisi darurat. Seorang pengungsi dari masing-masing negara memiliki kesempatan untuk mempraktekkan cara mengobati luka menggunakan perban elastis, mencuci tangan dan memeriksa tanda-tanda vital. Dalam rangka menguji pengetahuan peserta setelah sesi pelatihan, diadakan sesi kuis dengan hadiah yang menarik yang disediakan bagi para peserta yang menjawab pertanyaan dengan benar.    

Naguleswari of Sri Lanka is demonstrating correct hand washing as a preventive action of diarrhea or other illnesses.
Naguleswari of Sri Lanka is demonstrating correct hand washing as a preventive action of diarrhea or other illnesses.
(Nofri Raco/ CWS Indonesia)

   

Diantara dua puluh tiga peserta, Huang Fu Qing dari Cina merupakan salah satu dari mereka yang mendapatkan keuntungan dari pelatihan, “Saya mendapatkan banyak sekali informasi yang berguna dari pelatihan. Sekarang saya tahu apa yang dilakukan dalam keadaan darurat dan saya juga mendapatkan pengetahuan tentang penyakit yang dapat dicegah dan diobati,” kata wanita berusia 33 tahun yang telah tinggal di Jakarta selama hampir setahun. “ Saya berharap UNHCR dan CWS tidak akan pernah berhenti membantu kami di sini. Saya sangat berterima kasih,” lanjutnya.

“Pelatihan pertolongan pertama sejalan dengan tujuan Program PURE (Protecting Urban Refugee through Empowerment) CWS untuk menyediakan kebutuhan dasar dan pelayanan dasar bagi para pengungsi,” kata Hindra Sulaksono, Program Manager. “Dengan melatih perwakilan pengungsi dari setiap negara asal, kami berharap mereka dapat memberikan pertolongan pertama bagi rekan sesama pengungsi dalam keadaan darurat dan membagi informasi dan pengetahuannya kepada yang lain,” tambah Hindra.



Berita yang berkaitan

Hari Air Sedunia 2011

Bergabunglah dengan CWS Indonesia Merayakan Hari Air Sedunia!

Lanjut
Hari Cuci Tangan Sedunia 2010

Mari rayakan hari cuci tangan sedunia lebih dari sehari. Cuci tangan dan selamatkan nyawa!

Lanjut
Hari Kemanusiaan Dunia 2010

Bergabung dengan CWS Indonesia merayakan Hari Kemanusiaan Dunia!

Lanjut
ACT Alliance

Church World Service adalah anggota ACT Aliance

Lanjut
Kementrian Sosial Republik Indonesia

Church World Service bekerja di bawah Nota Kesepahaman dengan Kementrian Sosial

Lanjut
The Enough For All Campaign

 utilizes the challenges and opportunities presented by climate change to promote just and ecologically sustainable development.

Lanjut
CROP HUNGER WALKS

Neighbors walking together to take a stand against hunger in our world. Together we raise awareness and funds for international relief and development, as well as local hunger-fighting.

Lanjut