Berita CWS

Membantu petani lokal Desa Biloto, NTT untuk meningkatkan produksi pangan

Kamis, 8 September 2011

“Saya pesimis karena sawah biasanya membutuhkan banyak air, sementara air langka di desa ini dan di Timor Barat pada umumnya. Kami mencoba melakukannya di lahan dengan skala kecil,” kata Chornelis Neno, 50 tahun, salah satu pemimpin Desa Biloto, Timor Barat. “Berhasil,” kata Neno yang terlihat sangat bahagia pada CWS,.

Sejak Maret 2011 petani lokal Desa Biloto telah mencoba Sistem Intensifikasi Padi yang memungkinkan mereka menanam padi dengan sedikit bibit dan air. Di daerah seperti Desa Biloto Timor Barat, dimana musim kemarau panjang dan menyebabkan kekeringan, air adalah masalah besar dan harus digunakan secara bijak.

Neno and his fellow neighbors tried out the permaculture method in a small land. Now they have harvested some vegetables.
Neno and his fellow neighbors tried out the permaculture method in a small land. Now they have harvested some vegetables.
(Blasius Halek / CWS Indonesia)

Mereka juga mencoba permakultur, suatu model penggunaan lahan secara berkelanjutan yang berdasarkan pada prinsip-prinsip ekologis dan biologis. Sebagian besar dari mereka adalah petani miskin yang mencoba untuk memastikan konsumsi keluarga. Mereka tidak mampu membeli lebih banyak bibit untuk meningkatkan produksi pertanian mereka, apalagi untuk membeli pupuk atau pestisida. Oleh karena itu, permakultur merupakan metode yang sesuai untuk meningkatkan produktivitas pertanian petani lokal karena permakultur bertujuan membuat stabil, sistem produksi yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan manusia, secara harmonis mengintegrasikan lahan dengan penduduknya.

 

“Hal ini memungkinkan kami belajar bagaimana merawat padi dan juga sayuran dengan pupuk dan pestisida organik; sehingga kami tidak merusak tanah. Kami belajar bagaimana membuat kompos dan pupuk bokashi menggunakan kotoran binatang. Kami tidak perlu menghabiskan uang untuk pupuk dan pestisida. Kami mengubah suatu lahan kosong menjadi sawah dan pertanian,” jelas Neno.

“ Prakteknya tidak mahal karena kami dapat menggunakan apa yang tersedia di alam,” lanjut Neno, yang telah tinggal disana selama dua puluh satu tahun. “ kami menggunakan air hujan yang dikumpulkan di embung untuk mengairi lahan,” tambahnya.

Ini adalah proyek percontohan CWS di sebuah komunitas kecil Desa Biloto untuk membantu mereka meningkatkan produksi pangannya untuk mengurangi dampak kekeringan yang akan datang. Dalam rangka membekali petani dengan pengetahuan dan keterampilan, CWS mengadakan serangkaian pelatihan pertanian bagi petani lokal dan memfasilitasi pembentukan kelompok 25 petani lokal yang disebut Tafena Kuan pada bulan Januari 2011.        

Hal ini merupakan tindak lanjut dari pembangunan embung yang Neno dan pemimpin desa lainnya ajukan diakhir tahun 2009 untuk menampung air hujan. Sejak Agustus 2010, penduduk desa telah menggunakan air di embung untuk aktivitas sehari-hari seperti mandi dan mencuci.

Tafena Kuan, kelompok petani yang dipimpin Cornelis Neno, telah menerima tiga kali pelatihan pertanian sejak Desember 2010. Pada pelatihan pertama mereka belajar tentang permakultur: etikanya, prinsip-prinsip, dan komponen-komponennya. Pelatihan kedua memungkinkan mereka belajar tentang Sistem Intensifikasi Padi, hortikultura, pupuk dan pestisida organik. Pelatihan terakhir bagi mereka adalah belajar tentang mikroorganisme lokal dan mikroorganisme efektif serta pembibitan ikan air tawar. Selain teori, mereka memiliki kesempatan untuk praktek.


Menerapkan model permakultur dan mengkombinasikannya dengan hortikultura telah memungkinkan petani untuk memanen beberapa sayuran. “ kami telah menanam sayuran. Selama 21 tahun saya tinggal disini, sayuran yang biasanya saya makan hanyalah daun pepaya. Tapi, sejak kami memiliki lahan ini, saya dan keluarga bisa makan sayuran lain seperti buncis dan sawi,” kata Neno. “Tidak hanya untuk konsumsi keluarga, saya telah menjual beberapa sawi di pasar lokal. Saya mendapat Rp. 200.000 dari penjualan hasil panen sebelumnya. Saya senang,” Neno dengan bangga memberitahu CWS.

“Tidak hanya mengajarkan kami bagaimana cara melakukannya, CWS juga memperkenalkan kami kepada para petugas dari Dinas Pertanian Kabupaten yang juga telah memberikan dukungan dan motivasi untuk melakukan cara yang benar. Keberhasilan kelompok dalam proyek percontohan juga telah memotivasi para tetangga untuk mencoba melakukan hal yang sama, menanam sayuran dengan metode permakultur. “Kami berencana untuk meningkatkan produksi kami di masa depan sehingga kami memiliki persediaan makanan yang lebih pada saat musim kemarau yang selalu mengarah pada kekeringan dan kelangkaan pangan. Para anggota kelompok akan bekerja keras untuk membuat ini berkelanjutan.”   




Berita yang berkaitan

Hari Air Sedunia 2011

Bergabunglah dengan CWS Indonesia Merayakan Hari Air Sedunia!

Lanjut
Hari Cuci Tangan Sedunia 2010

Mari rayakan hari cuci tangan sedunia lebih dari sehari. Cuci tangan dan selamatkan nyawa!

Lanjut
Hari Kemanusiaan Dunia 2010

Bergabung dengan CWS Indonesia merayakan Hari Kemanusiaan Dunia!

Lanjut
ACT Alliance

Church World Service adalah anggota ACT Aliance

Lanjut
Kementrian Sosial Republik Indonesia

Church World Service bekerja di bawah Nota Kesepahaman dengan Kementrian Sosial

Lanjut
The Enough For All Campaign

 utilizes the challenges and opportunities presented by climate change to promote just and ecologically sustainable development.

Lanjut
CROP HUNGER WALKS

Neighbors walking together to take a stand against hunger in our world. Together we raise awareness and funds for international relief and development, as well as local hunger-fighting.

Lanjut