Masa remaja adalah periode transisi dari perkembangan manusia secara fisik dan mental yang terjadi antara masa kanak-kanak dan dewasa. Transisi ini melibatkan perubahan biologis, sosial, dan psikologis. Selama periode ini, yang biasanya berkisar antara usia 13-19, rasa ingin tahu yang tinggi kadang-kadang menyebabkan remaja terlibat dalam masalah kesehatan reproduksi dan penyalahgunaan obat-obatan.
Peer Educator Training in Nagan Raya
(CWS Indonesia)
Rasa ingin tahu yang tinggi dari remaja harus disalurkan ke dalam kegiatan yang mendukung, dilengkapi dengan pengetahuan yang baik tentang kesehatan reproduksi, termasuk pubertas, dan penyalahgunaan narkoba; jika tidak kerentanan mereka terhadap IMS, termasuk HIV dan penyalahgunaan narkoba dapat menjadi tinggi.
Menurut Komisi Penanggulangan AIDS untuk provinsi Aceh / KPAP Aceh, jumlah orang yang hidup dengan HIV dan AIDS serta IMS lain di Propinsi Aceh meningkat dan kejadian ini telah menyuarakan keprihatinan dari banyak pihak. Data terakhir menunjukkan bahwa 47 orang di Aceh telah terinfeksi oleh HIV. Ada beberapa kondisi yang telah memberikan kontribusi terhadap situasi tersebut seperti terbatasnya sumber informasi dan pendidikan mengenai masalah-masalah tersebut.
Menanggapi situasi di atas, CWS Indonesia kantor Banda Aceh bekerjasama dengan Yayasan Harapan Permata Hati Kita (YAKITA), sebuah LSM yang bekerja dalam membantu orang-orang yang kecanduan alkohol dan narkoba serta isu-isu seputar kesehatan reproduksi remaja, telah melaksanakan pelatihan pendidik sebaya bagi siswa sekolah menengah. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pendidikan dan informasi tentang Kesehatan Reproduksi dan HIV dan AIDS serta untuk membekali siswa dengan keterampilan untuk memfasilitasi transfer pengetahuan kepada rekan-rekan mereka.
Hindra Sulaksono, Manajer Program untuk kantor Aceh CWS, berbagi "Saya kira penting untuk mendidik remaja tentang subjek ini dan akan lebih baik jika secara terus menerus dilakukan. Hal ini diharapkan bahwa mereka akan lebih sadar dan peduli tentang diri mereka sendiri dan orang lain dan merasa terdorong untuk menyebarkan pengetahuan kepada rekan-rekan mereka. "
Lima puluh siswa SMA dan empat guru mengikuti pelatihan ini selama tiga hari, 28 peserta dari SMAN 3 Darul Makmur, Nagan Raya Kecamatan dan 27 peserta dari SMAN 1 Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya. Topik yang disampaikan adalah komunikasi non verbal dan verbal, Kesehatan Reproduksi, HIV dan AIDS, IMS, tindak lanjut perencanaan serta Teknik Fasilitasi dan Simulasi / Praktek di fasilitasi. Semua peserta antusias selama mengikuti pelatihan dan salah satu dari mereka berkomentar, "Ini pelatihan Peer Educator menyenangkan dan menarik. Sekarang saya tahu lebih banyak tentang HIV dan AIDS dan saya ingin berbagi informasi kepada mereka yang masih tidak memiliki pengetahuan tentang ini. "
Melalui pelatihan ini, YAKITA dan CWS berharap bahwa mahasiswa dapat bertindak sebagai agen informasi yang membantu menyebarkan informasi yang tepat untuk rekan-rekan mereka. Hindra Sulaksono lebih lanjut menambahkan, "CWS juga akan memberikan sesi info di sekolah tinggi dibantu oleh pendidik sebaya yang telah menerima pelatihan dalam rangka lebih meningkatkan kesadaran tentang HIV dan AIDS serta kesehatan reproduksi di Aceh".
Berita yang berkaitan