Pada 14 November 2010 Gunung Merapi masih memuntahkan aliran piroklastik meskipun Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan kegiatannya telah menurun dalam tiga minggu setelah letusan pertama gunung berapi pada tanggal 26 Oktober 2010.
BNPB telah menyempitkan zona bahaya di sekitar Merapi. Zona bahaya di Kabupaten Klaten dan Boyolali telah berkurang sampai 10 Km dan di Kabupaten Magelang sampai 15 Km. Zona bahaya di Kabupaten Sleman tetap 20 Km.
Children, pregnant women and seniors at Pakunden evacuation site are not recommended to return to their home as the volcano still poses a big threat.
(Courtesy of CWS Partner, KYPA)
Beberapa pengungsi telah kembali ke rumah. Namun, kelompok-kelompok rentan seperti perempuan, wanita hamil, manula dan anak-anak disarankan untuk tidak kembali ke rumah mereka, karena aktivitas gunung berapi ini masih pada status tertinggi dan dapat menimbulkan ancaman serius.
Menurut BNPB, Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalop) Posko AJU, letusan telah menyebabkan sebanyak 367.548 orang mengungsi di 134 tittik evakuasi, di Provinsi Yogyakarta dan Jawa Tengah. Pada saat ini terdapat 259 kematian yang telah dikonfirmasi dan 509 orang masuk rumah sakit.
CWS memprioritaskan kebutuhan kelompok yang paling rentan. Setelah asesmen yang dilakukan di empat kabupaten yang terkena dampak, CWS, melalui KYPA, telah mendistribusikan total 248 peralatan bayi di Kabupaten Magelang, empat lokasi di Kecamatan Ngluwar, satu lokasi di Kecamatan Salam dan lima lokasi di Kecamatan Pakis. Adapun untuk yang terakhir "Kecamatan ini tidak menerima bantuan banyak karena lokasinya. Akses ke desa-desa tersebut sangat sulit. Tim harus berjalan 2 Km untuk sampai ke sana," kata Arianto Andra, staf KYPA.
A mother in Pakunded Village, Magelang receiving baby kits from CWS Partner
(Courtesy of CWS Partner, KYPA)
Paket bayi terdiri dari sabun bayi, handuk, pakaian bayi, selimut, dan minyak bayi. "Terima kasih untuk paket bayi tetapi kita juga perlu kelambu dan alas tidur untuk bayi kami," ungkap Rubi, salah satu pengungsi dari Desa Kradenan, Magelang.
CWS sangat prihatin dengan kesejahteraan psikososial dari penduduk yang terkena dampak bencana. Oleh karena itu, CWS akan mengadakan pelatihan di Solo untuk melengkapi salah satu mitra dengan pertolongan pertama psikososial untuk membantu penyintas Gunung Merapi.
CWS bekerja dengan KYPA, Mitra Alam dan L-Paska dan berkoordinasi dengan anggota lain dari ACT Forum Indonesia, pemerintah daerah, Badan-badan PBB dan Forum PRB di Yogyakarta.
Church World Service adalah sebuah organisasi kemanusiaan nirlaba yang prioritasnya adalah selalu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang paling rentan, tanpa memandang agama, ras, etnis, atau gender. Bersama dengan organisasi lokal, kami bekerja di daerah perkotaan dan pedesaan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan membantu mengatasi akar penyebab kemiskinan serta memberikan bantuan kemanusiaan kepada korban bencana alam dan bencana yang diakibatkan oleh manusia. CWS didirikan pada tahun 1946 dan telah beroperasi di Indonesia selama lebih dari 40 tahun.
Church World Service adalah anggota dari ACT Alliance.
Contacts:
Dino Satria
Emergency Response Coordinator
+62 811 266330
Ilmi Suminar
Communication Coordinator
+62 817 002 1284
Berita yang berkaitan