In Focus

Orang tua cemas anaknya terkena penyakit; CWS membantu komunitas menyediakan fasilitas air dan sanitasi di Pulau Pagai Selatan

Rabu, 5 Januari 2011

Oleh Bonnie K. Carenen

Masyarakat yang tinggal di Kepulauan Mentawai kurang informasi dan infrastruktur untuk kebersihan dan sanitasi yang layak. Masyarakat, yang mengalami gempa bumi dan tsunami pada tanggal 25 Oktober 2010 sangat rentan terhadap penyakit yang ditularkan melalui air seperti diare.

Banyak anak-anak dan orang dewasa buang air besar di hutan di sebelah sumber air, di desa-desa dan di kamp-kamp pengungsi di mana orang tinggal dalam jarak dekat. "Ada beberapa jamban di kamp pengungsi, tetapi jumlah jamban kalah dengan jumlah orang di sini," kata salah satu pengungsi. Jamban juga tampaknya telah ditinggalkan karena tidak ada pasokan air yang cukup. Anak-anak bersembunyi di semak-semak dan juga pergi berenang dan mandi di kolam sementara ibu mencuci pakaian dan piring di dekatnya. Selain itu, kebanyakan orang tidak mencuci tangan mereka dengan sabun. Mereka sering mengambil air minum dari sungai yang sama atau kolam.

 

Children in IDPs camp in Pagai Selatan Island are vulnerable to waterborne diseases such as diarrhea as they practice open defecation
Children in IDPs camp in Pagai Selatan Island are vulnerable to waterborne diseases such as diarrhea as they practice open defecation
(Andreas Sinaga)


Sejak gempa, dengan begitu banyak orang mengungsi, dan kini di tengah-tengah musim hujan, risiko penyakit dari buang air besar di tempat terbuka lebih tinggi. Tanpa jamban, anggota masyarakat cenderung buang air di semua tempat yang mudah dicapai, dan melakukannya di alam terbuka dekat tempat tinggal manusia, mencemari pasokan air dan menyebabkan penyakit. "Saya khawatir karena anak-anak saya cukup sering jatuh sakit sekarang. Baik ruam atau diare, "ujar Rosanah, seorang ibu dari lima anak yang tinggal di kamp pengungsi di Km 37 Pagai Selatan Pulau dengan keluarganya.

Anak-anak yang tinggal di kamp pengungsi pada km 44 bermain dengan gembira dekat tim Church World Service dan mitra yang sedang melakukan penilaian pendahuluan untuk kebutuhan air dan sanitasi di komunitas ini. Masyarakat membutuhkan kakus sementara dengan tangki septik, sementara mereka menentukan apa masa depan mereka pada jangka panjang. Mereka juga membutuhkan air yang dimurnikan dari kantung air atau tangki air sehingga mereka tidak jatuh sakit atau menyebarkan penyakit oleh air yang terkontaminasi.


CWS bladder provides water supply to community in Pagai Selatan Island. They use the water for drinking, bathing and washing.
CWS bladder provides water supply to community in Pagai Selatan Island. They use the water for drinking, bathing and washing.
(Andreas Sinaga)


Church World Service secara aktif merespons masa darurat pasca-bencana dan dalam fase pemulihan, untuk membantu warga di Kepulauan Mentawai untuk membangun kembali kehidupan mereka supaya lebih baik dari sebelumnya. CWS menjalankan praktek kemitraan dan program pemulihan yang berkelanjutan yang bermanfaat bagi semua anggota masyarakat di Kepulauan Mentawai, khususnya di Pulau Pagai Selatan.




Berita yang berkaitan

Hari Air Sedunia 2011

Bergabunglah dengan CWS Indonesia Merayakan Hari Air Sedunia!

Lanjut
Hari Cuci Tangan Sedunia 2010

Mari rayakan hari cuci tangan sedunia lebih dari sehari. Cuci tangan dan selamatkan nyawa!

Lanjut
Hari Kemanusiaan Dunia 2010

Bergabung dengan CWS Indonesia merayakan Hari Kemanusiaan Dunia!

Lanjut
ACT Alliance

Church World Service adalah anggota ACT Aliance

Lanjut
Kementrian Sosial Republik Indonesia

Church World Service bekerja di bawah Nota Kesepahaman dengan Kementrian Sosial

Lanjut
The Enough For All Campaign

 utilizes the challenges and opportunities presented by climate change to promote just and ecologically sustainable development.

Lanjut
CROP HUNGER WALKS

Neighbors walking together to take a stand against hunger in our world. Together we raise awareness and funds for international relief and development, as well as local hunger-fighting.

Lanjut